Sejarah Rindam


Resimen Induk Kodam / Brawijaya dalam keadaan perwujudannya seperti pada dewasa ini, adalah buah atau hasil dari suatu perkembangan dan gerak maju yang terus-menerus. Oleh karenanya, sejarah dan perkembangan Rindam V/Brawijaya mengandung gambaran yang lengkap dari proses sejarah dan perkembangan yang terjadi pada tubuh TNI AD baik dalam struktur organisasi maupun dalam fungsi.   

Menilik dari tugas-tugas pokoknya pada awal pembentukan yang tidak saja terbatas pada bidang penyelenggaraan pendidikan dan latihan tetapi juga mengikuti Bidang Corp. Kewilayahan, dalam fungsinya tak ubahnya sebagai seorang ibu yang tidak saja melahirkan putra-putranya, tetapi juga membina dan mendewasakannya.  Pengertian “ Induk “ sebagai predikat dari Resimen ini, menunjukkan hakikat dan fungsi yang sebenarnya.  Perkembangan TNI AD sejak bernama Badan Keamanan Rakyat (BKR) berganti TKR kemudian Tentara Republik Indonesia (TRI) hingga akhirnya menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) adalah akibat yang wajar dari proses penyempurnaan pola perjuangan Nasional. 

Perkembangan itu menunjukkan usaha yang terus menerus kearah terwujudnya suatu Tentara Nasional yang kuat dan sempurna sebagai yang dicita – citakan oleh seluruh rakyat Indonesia.  Ketika Perjuangan Nasional kita memasuki periode pembangunan, sekitar tahun 1950 setelah berakhirnya Perang Kemerdekaan, TNI AD sebagai alat perjuangan bangsa, dengan  sendirinya memasuki fase baru pula didalam sejarahnya. Mulailah dirasakan adanya faktor – faktor yang harus segera mendapat perhatian demi peningkatan mutu TNI, baik dibidang organisasi maupun dibidang pengetahuan Militer serta bidang mental ideologi TNI AD pada khususnya. Pada waktu itu telah didasari kenyataan-kenyataan bahwa
 
  • Anggota-anggota TNI berasal dari lingkungan hidup sosial serta dasar pendidikan yang bermacam - macam.
  • Modal pengetahuan dan doktrin-doktrin kemiliteran, mula kita peroleh dari KNIL, PETA dan HEIHO, serta ditambah dengan pengalaman-pengalaman semasa Perang Kemerdekaan Pertama dan Kedua.  
  • Tugas TNI didalam pengamanan Negara sejak zaman lahirnya sampai dewasa ini membutuhkan penilaian, penelitian dan pengembangan lebih lanjut. 
  • Belum adanya Lembaga Pendidikan Kemiliteran yang formal bagi Angkatan Darat masa itu, demikian pula organisasi, administrasi, tata cara dan keseragaman dan sebagainya. 



  • Kebutuhan akan pembentukan kader-kader dalam rangka peremajaan dan program masa depan sangat diperlukan dalam rangka HANKAMNAS khususnya TNI AD. 

Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut diatas, pimpinan Angkatan Darat kemudian merumuskan garis-garis kebijaksanaan dibidang penelitian kemiliteran dengan segala aspeknya sesuai yang tercantum dalam penetapan KASAD No. 50 – 30 serta atas Dasar instruksi Kasad No. 58/KSAD/INSTR/53 yang mengatur sistem pendidikan bagi Perwira, Bintara dan Tamtama.   

Sejak tahun 1954, Lembaga Pendidikan Angkatan Darat telah mulai menjalankan tugasnya baik dipusat maupun didaerah–daerah. Sejalan dengan pelaksanaan tersebut telah dikeluarkan pula penetapan Kasad yang mengatur kebijaksanaan umum pendidikan didalam Angkatan Darat secara darurat sekitar tahun 1960-1961. Khusus bagi kader–kader pimpinan seluruh tingkat Perwira, Bintara juga Tamtama.   

Sementara itu usaha penyempurnaan mutu TNI dibidang pertahanan Militer terus pula  ditingkatkan. Salah satu bentuknya yang nyata ialah dengan terbentuknya Resimen Induk Infanteri (Rinif) pada tahun 1960. Seiring dengan berkembangnya situasi zaman dari tahun ke tahun Rinif telah mengalami berbagai perubahan nama dan status. Berawal dari nama Rinif Dam VIII/Brawijaya pada tahun 1962 kemudian Rin Brawijaya tahun 1963 - 1975, Rindam VIII/Brawijaya tahun 1975 - 1979, Kodiklatdam VIII/Brawijayatahun 1979 - 1985, Rinifdam V/Brawijayatahun 1985 - 1991, Rindam V/Brawijaya tahun 1991 sampai sekarang.   


Lembaga pendidikan ini sempat berubah status dari satuan pendidikan menjadi satuan tempur sejak kerajaan Belanda melakukan agresi pertama terhadap wilayah Indonesia pada  tanggal 21 Juli 1947.  Seiring dengan pengakuan serta pulihnya kedaulatan Negara Republik Indonesia, maka Kesatuan-kesatuan pendidikan mengalami pula penyempurnaan dan perubahan, baik dipusat maupun didaerah-daerah termasuk yang berada diwilayah Jawa Timur.